Jumat, 31 Juli 2009

Rabu, 22 Juli 2009

DOA SANG JUARA









Banyak yang posting tulisan ini, kita tidak melihat itu, tapi mari kita memetik hikmah dibalik cerita berikut:

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri,sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Ahmadlah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Ahmad bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Ahmad meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,

"Ya, aku siap!"

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju," begitu teriak mereka.

Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Ahmadlah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
"Alhamdulillah."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah agar kamu menang, bukan?"

Ahmad terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Ahmad.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya mohon pada Allah supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Saudaraku..., anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Ahmad, tidaklah memohon pada Allah untuk menang dalam setiap ujian. Ahmad, tak memohon Allah untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Allah mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Ahmad, bermohon pada Allah, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Allah untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Allah untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Allah, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Allah
memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Allah sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh.

Jadi Saudaraku....... berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua.
Amin

Minggu, 19 Juli 2009

Keterbatasan Waktu

Seseorang divonis mati oleh dokter, dan selama sisa hidupnya ia harus didampingi oleh dokter.
Tapi ia memilih keputusan radikal, dia mau menikmati sisa hidupnya dengan berkeliling dunia tanpa dampingan dokter.
Suatu ketika ia pergi berlayar, ia menikmati indahnya samudera luas, menghirup udara lautan yang segar.

Kemudian ia curhat pada nahkoda tentang penyakitnya. Bahwa ia tidak pernah menjadikan penyakitnya itu adalah batas waktunya. Nahkoda pun berdecak kagum padanya, tidak ada kekhawatiran dari ronanya. Wajahnya berbinar, tak nampak dari rautnya bahwa ia mengidap penyakit kronis. Kelihatannya ia begitu bebas tanpa tekanan.
Tiba waktu yang telah ditentukan dokter, tapi ia masih saja hidup, ia tidak mati.
Kenapa?
Karena kebahagiaanya dalam keterbatasan waktu...

Rindu Kebersamaan


Dia.... ukhti yang kukagumi karena kesederhanaannya
Hari ini bertandang ke rumah, seperti biasanya
Tapi kali ini sedikit berbeda
Ketika kusambut dengan wajah ceria
Ia langsung menyalamiku dan mendekapku mesra
Aku terpana tak dapat berkata-kata
Tak biasanya..... Ada apa dengan dia?
Entahlah, aku tak ingin bertanya
Yang jelasnya aku sangat bahagia
Kerinduan moment seperti ini sudah lama terpendam dalam palung jiwa
Kemesraan ukhuwah yang membahana menghangatkan suasana
Membuat perasaanku berbunga-bunga
Wahai kau ukhti bijaksana

Indahnya kebersamaan, kuingin selamanya....

Untuk: Ukht ANH :)
19 Juli 2009

Senin, 13 Juli 2009

Memoar Juli, 13 2006
























Untuk Bapak yang telah kembali ke haribaan-Nya
Mengenang 3 Tahun Silam

Pa….masih lekat lembut wajahmu,
Genang air bening di sudut mata merahmu,
Kelihatan dari sana,
Hidup ini begitu keras menghempaskan jiwamu.
Aku rindu Pa…
Rindu akan sosokmu yang mestinya melindungiku
Pa…lihatlah anakmu ini,
Berjuang dan terus berjuang menjalin mozaik yang telah berpencar entah disebabkan oleh apa, mungkin harta, mungkin tahta, mungkin juga karena memang petaka
Sedih masih saja menyesaki dada saat mengenang semua
Air mata tak sanggup ungkapkan kegalauan jiwa
Bahkan darah sekalipun, hanya mengalir perih tak bersuara
Lihatlah anakmu ini Pa….
Begitu merasa kehilanganmu
Sejak kecil kehilangan wujudmu
Sampai akhirnya kau betul-betul tiada
Lama anakmu ini terkubur dalam kerinduan
Namun apakah kau merasakannya?
Pa….
Aku tak menyesal kau biarkan seperti ini
Yang kutangisi,
Aku belum bisa membuatmu bangga dengan keadaanku
Sebelum kau benar-benar menghadap keharibaan-Nya

Aku memang memang belum siap ketika kau pun meninggalkanku sendiri
Saat itu kaulah satu-satunya tempatku bersandar di bumi
Aku merasa hidupku terkatung-katung
Layaknya domba di tengah kepungan serigala lapar
Penuh ancaman dan ketidaktenangan.
Namun Allah menakdirkan lain
Dan Dialah yang paling tahu
Aku siap ataukah belum
Aku harus percaya dan yakin, itulah yang terbaik!

Tapi Pa….
Kenapa hidup itu terasa seperti belati?
Terus saja menyayat-nyayat luka yang baru mulai mengering
Tak hentinya mencabik-cabik hatiku
Mengoyak perasaanku
Menginjak-injak harga diriku
Membuktikan betapa lemahnya aku
Betapa tak berdayanya aku tanpamu
Namun tak akan kubiarkan mereka merampas mimpi-mimpiku Pa!!
Anakmu ini adalah pejuang
Tak pernah kenal lelah dan putus asa
Kuingin membuat kalian tersenyum bangga
Dari alam barzakh yang ‘kan terus kukenang