Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2013

NELSON MANDELA FOUNDING FATHER SOUTH AFRICA

Hari  ini Kamis, 5 Desember 2013, dunia berduka disebabkan wafatnya “the living legend” di Johannesburg. Beliau adalah Nelson Mandela. Beliau adalah founding father negaranya Afrika Selatan. Dialah orang yang ‘membebaskan’ Afrika Selatan dari rasisme bersama ANC (African National Conference) yang berhasil di tahun 1994, sejak 1948 terjadi pemisahan antara warga negara asli berkulit hitam dan keturunan yang berkulit putih.
 
Politik apartheid sebagai sebutan dari praktek rasisme merupakan hasil dari Pemilihan Umum 1948 yang dimenangkan oleh National Party. Senarnya ada empat kategorisasi kelompok rasial berdasarkan warna kulit, yaitu hitam, putih, berwarna dan India. Praktek ini mengerikan karena kaum berkulit hitam yang sebenarnya mayoritas dan penduduk asli dianggap ‘bukan manusia’. Segala pelayanan publik dibedakan, dengan warga Afrika Selatan berkulit hitam menjadi warga negara kelas empat. Contohnya untuk toilet, ada tiga jenis: lelaki, perempuan dan dipisahkan jauh di belakang untuk “kulit hitam” dengan satu ruangan campur untuk lelaki dan wanita. Itu belum lagi perlakuan seperti di pemukiman, bus, rumah sakit, dan fasilitas umum lain. Warga negara berkulit hitam dianggap sederajat dengan binatang. Tentara dan polisi juga ringan tangan bahkan untuk membunuh. Mengerikan! Apartheid adalah perbudakan manusia di zaman modern.

Nelson Mandela ditangkap dan dipenjara oleh rezim penguasa selama 27 tahun. Ia mendapatkan nomor registrasi tahanan nomor 466 ketika dipenjara tahun 1964 usai ditangkap tahun 1962. Kode “tahanan 46664″ digunakan oleh penguasa juga rekan-rekannya untuk berkomunikasi. Ini menginspirasi Joe Strummer & Bono untuk kelak menciptakan lagu dan konser bertajuk “46664″ pada tahun 2000 sebagai bagian dari kampanye penanggulangan AIDS di benua Afrika.


Dunia mengucilkan Afrika Selatan di era apartheid. Termasuk Indonesia. Kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Afrika Selatan di masa pemerintahan apartheid. Dan Indonesia termasuk negara yang aktif mendukung perjuangan pembebasan Afrika Selatan dari politik rasisme, terutama melalui Gerakan Non Blok. Nelson Mandela sendiri sangat menyadari ini. Sesudah ia dibebaskan dari penjara Victor Verster pada tahun 1990, salah satu event internasional penting yang kemudian dihadirinya adalah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok di Jakarta dan Bogor tahun 1992. Acara ini mencatat rekor dunia saat itu sebagai event internasional yang dihadiri para pemimpin negara terbanyak di dunia, bahkan lebih banyak daripada Sidang Majelis Umum PBB.

Sejak itu, Nelson Mandela dengan penuh kesadaran mengenakan batik sebagai pakaian resminya. Di berbagai kesempatan, ia selalu mengenakan batik. Termasuk saat melakukan kunjungan kenegaraan ke negara-negara lain. Bahkan di saat negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2008 dan ia menerima kunjungan delegasi FIFA yang membawa serta World Cup trophy. Selain itu, Afrika Selatan juga mendukung Indonesia saat kita hendak menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB.

Pengakuan atas kepahlawanannya datang dari berbagai penjuru dunia. Terutama setelah politik apartheid akhirnya dihapuskan sepenuhnya dari Afrika Selatan pada 1994, setelah perundingan damai dimulai tahun 1990. Ia menerima anugerah Nobel Perdamaian bersama Presiden Afrika Selatan terakhir yang berkulit putih F.W. de Klerk pada tahun 1993. Amerika Serikat menganugerahkannya medali “Presidential Model of Freedom”. Ia juga penerima terakhir “Lenin Prize for Peace” dari Uni Sovyet sebelum negara itu bubar pada 1992. Pemerintah Kanada, India, Pakistan, Libya, dan Turki juga menganugerahinya penghargaan. Pemerintah kerajaan Inggris juga menganugerahi gelar kebangsawanan Bailiff Grand Cross of the Order of St. John dan medali Order of Merit. Bahkan PBB pada bulan November 2009 dalam Sidang Majelis Umum menjadikan hari lahirnya pada 18 Juli sebagai “Mandela Day”. Para seniman juga menghormatinya dengan menciptakan karya khusus untuknya. Termasuk musisi terkemuka Stevie Wonder dan U-2. Ada pula film yang dibuat terinspirasi perjuangannya, antara lain Mandela and De Klerk (1993), Goodbye Bafana (2007), Invictus (2009), dan yang terbaru Mandela: Long Walk To Freedom (2013). Sementara proses perundingan pembebasan Afrika Selatan  dari apartheid difilmkan di End Game (2006).

Rabu, 16 Februari 2011

Siapakah Aku?



Lahirku di Kampung Al-Jaurah,
Selatan Tebing Gaza, 1938 Masihiah,
Tercetus perang 1948, familiku berpindah,
Mengharung kaki menuju Ghazzah. (Gaza)

Tika asyik beriadah bersama teman,
Malang menimpa. Aku terhumban,
Lumpuh seluruh badan,
Namun, kutekad kekuatan,
Lumpuhku tidak bisa menghalang pergerakan,
Minda, fikiran, tadbir jua amalan...

Kutamatkan pengajian sekolah,
Kuteruskan ke Universiti Ain Syams, padah,
Setahun berlalu dan aku terpaksa berhenti,
Hati yang terhiris itulah,
Yang kubawa ke Mesir gagah,
Kukenal Ikhwan, sertai jamaah.

Di Palestin, Akulah guru, mengajar tatatertib,
Berkhutbah di masjid, akulah khatib,
Akulah pengasas Majma' Islami,
Pada 70-an tekad bersemi.

1983. Aku ditangkap dituduh,
Pengasas Majd Mujahidin pembunuh,
13 tahun penjara, mahkamah menyuruh,
Namun terbebas selepas bulan kesepuluh.

Kuasaskan lagi gerakan HAMAS,
Gerakan Penentangan Islamiah, kemas,
1987, HAMAS berdiri tegas!
Sekali lagi, ditangkap askar Yahudi,
Dihukum penjara seumur abadi,
Ditambah 15 tahun lagi,
Kerana mengasas HAMAS
menggempa Yahudi!

Makin hari, kumakin lemah, di penjara,
Pandangan kananku hilang mutiara,
Mata kiriku kabur, terseksa didera,
Penyakitku kronik, dihantar ke Hospital Penjara.

Subuh 1 Oktober 1997 barakah,
Aku dibebas dengan janji payah,
Antara Jordan & Israel laknatullah,
Selepas serangan Khalid Masy'al tergagal, musnah.

Kusenyum,
kulihat Intifadah Aqsa, bangkitnya ummat,
Menentang, melawan Zionis penjajah laknat,
Hingga terbunuh jua tercedera berat.

Pagi,
Malam Isnin aku bersolat sendiri,
Munajatku mohon ke hadrat Ilahi,
Agar ganjaran Syahid diberi di sisi,
Dan kuniat puasa di pagi hari.

Masjid,
22 Mac 2004 - Fajarnya,
Usai solat Subuh, tiada lama hanya,
Tika berjalan pulang, aduh sakitnya,
Tiada rasa nyeri, pulanglah,
Pulanglah ke hadrat Tuhanku, Allah,
Haruman syurgawi, rohpun terbanglah,
Duniaku, pisahlah,
Nyata kerananya dan kerana-Nya aku lelah...
Akulah Syeikh Ahmad Ismail Yasin!

Siapa kamu?
Apa yang kamu telah sumbangkan untuk agama Allah?


(Sebuah Puisi Biografi Syeikh Ahmad Yasin, 1938-2004)

Jumat, 29 Mei 2009

مَوْلِد النُّورِ

حياة النبيّ ِ

ظلّت الكعبةُ المشرفةُ التي بناها إبراهيم و إسماعيلُ عليهما السلامُ في مكّةَ هي بيتِ اللهِ الحرامَ الذي يحُجُّ إليهِ العربُ من كافّةِ أرجاءِ جزيرةِ العربِ كلَّ عامٍز ولكنْ معَ مروررِ الزمانِ بدأ الناسُ يعبدون الأصنامَ ويضعونَهاحول الكعبةِ للتَّبرُّك بها.

وكان اهتمامُ العربِ بالكعبةِ وتعظيمُهم لها يُثيرُ غَيرَةَ و حسدَ كثيرٍ مِن الملوكِ مالحكامِ في بلادِ المجاوِرةِ ، وكان أبرهةُ الحبشِيُّ ملِكُ اليمنِ مِن أشدِّ هؤلاء غيظاً وحِقداً مِن تلك المكانةِ التي تحظى بها الكعبةُ في قلوبِ العربِ.

بنى أبرهةُ كنِيسةً عظيمةً سمّاها القلَّيْس ، كنتْ أكبرَ وأجملَ بِناءٍ شهِدَه العربُ ، وأراد أبرهةُ أنْ يصرِفَ الناسَ عن الذَهابِ إلى الكعبة ، ويحُجُّ إلى القلَّيْس بدلاً منها ، لكنّ العربَ لمْ يهتمّوا بأمر تلك الكنيسةِ ، ولمْ يذهبْ أحدٌ لزيارتِها.
غضِبَ أبرهةُ غَضَباً شديداً ، وجهَّز جَيْشًاكبيرًا ، جعل على مُقدّمتِه فيلاً ضخمًا ، وخرجَ إلى مكّةَ يريدُ هدْمَ الكعبةِ ، وحِينما علِمَ العربُ بذلك خرجتْ بعضُ القبائلِ لقتالِه ، ولكنّه هزَمَهم وانتصرَ عليهم.

أمرَ أبرهةُ جنودَهُ بالتقدُّمِ نحو الكغبةُ لهدْمِها ، ولكنّ الفيلَ بركَ على الأرضِ ورفضَ التحركَ مِن مكانتِه ، وكان الجنودُ كُلَّما وجَّهوه نحوَ جهةٍ أخرى يقومُ مُسرِعًا ، فإذا ما وجّهوه نحو الكعبةِ برك مرّةً أُخرى ، ورفض التحرُّكَ.

وفجأةً أظلمتِ السماءُ ، وغطّتِ المكانَ سحابَةٌ كبيرةٌ سوداءُ ، كانتِ السحابةُ عبارةً عنْ مجموعةٍ ضخْمةً من الطيورِ الصغيرةِ. راحَتِ الطيورُ تُلقي بقِطَعٍ صغيرةٍ من الحجارةِ على أبرهةَ وجنودِهِ ، فكانتْ هذه الحجارةُ لا تُصيبُ أحدًا منهم إلا أهلكتْه. وأسرع مَن نجا مِنهم بالهربِ ، والعودَةِ إلى اليمنِ ، وسمّى الناسُ هذا العامَ –عامَ الفيل- وفيهِ وُلِدَ النبيُّ ص.م

كان النبيُّ –محمّدٌ ص.م- مايزالُ جنينًا في بطن أمِّه عندَما ماتَ أبوه –عبدُ الله بنُ عبدِ المطّلِبِ- وهو في طريق عودَتِه مِن رحلةٍ تجاريَّةٍ إلى الشامِ فدُفنَ في المدينةِ عند أخوالِه من بني النجارِ.

وحينما وضعتِ السيِّدةُ آمنةُ بنتُ وهبٍ مولودَها ، فرِح به جدُّه عبدُ المطّلِبِ فرحًا شديدًا ، وسمّاه محمّدًا

وكان مِن عادَةِ العربِ أنْ يرسِلوا مواليدَهم غلى الباديةِ مع المرضعاتِ ، لينشئوا أقوياءَ الجسمِ فصحاءَ اللسانِ.

وكان الوليدُ محمّدٌ ص.م مِن نصيبِ السيّدةِ حليمةَ السعْديَّةِ، فأخذتْه معها إلى ديارِ قومِها بني سعدٍ.

عاشَ محمّدٌ ص.م في ديارِ بني سعدٍ نحو أربع سنوات ، وكان وجودُه بينَهم سَبَبَ خَيرٍ وبركةٍ كثيرةٍ عليهم ، ثمَّ عادَ بعدَ ذلك إلى مكّةَ ليعيش في أحضان أمِّه شهورًا قليلةً ، وكأنّه يوَدِّعُها قبل أن ترحلَ عن هذه الدنيا

Selasa, 26 Mei 2009

‘ATHA ’ BIN ABI RABAH

-->
"Saya tidak melihat orang yang mencari ilmu karena Allah,kecuali tiga orang yakni:
'Atha',Thawus,dan Mujahid."Salamah bin Kuhail
Kita sekarang memasuki sepuluh hari terakhir bulan Dzul Hijjah tahun 97 H.Dan rumah tua (Ka'bah)ini disesaki oleh tamu-tamu Allah dari segala penjuru;para pejalan kaki dan para pengendara,Tua dan muda,Laki-laki dan perempuan,berkulit hitam dan putih; orang arab dan non Arab serta tuan dan ada yang dipertuan alias rakyat. Mereka semua telah datang menghadap Raja manusia dengan khusyu'seraya bertalbiyah dan mengharapkan pahala Allah.
Tersebutlah, Sulaiman bin Abdul Malik,seorang Khalifah kaum muslimin dan salah seorang raja agung yang pernah bertahta di muka bumi sedang berthawaf di sekeliling Ka'bah dengan kepala terbuka dan bertelanjang kaki.Dia hanya mengenakan kain sarung dan selendang.Kondisinya kala itu sama seperti saudara-saudaranya fillah yang menjadi rakyat jelata.Sementara di belakangnya ada dua orang putranya,keduanya adalah dua anak muda yang keceriaan wajahnya bagaikan bulan purnama dan wangi dan kilauannya ibarat bunga yang sedang mekar. Begitu khalifah menyelesaikan thawafnya,beliau menengok ke arah salah seorang pengawalnya sembari berkata, "Di mana sahabatmu?" Orang itu menjawab, "Dia di sana sedang shalat," Sambil menunjuk ke pojok Barat Masjid Al-Haram. Lalu Khalifah dengan diikuti kedua putranya menuju tempat yang ditunjuk oleh pengawal tersebut.
Para pengawal pribadinya ingin mengikuti khalifah guna melebarkan jalan bagi dan melindunginya dari suasana berdesak-desakan.Akan tetapi Khalifah melarang mereka melakukan hal itu sembari berkata, "Para raja dan rakyat jelata sama kedudukannya di tempat ini.Tidak seorang pun yang lebih mulia dari orang lain,kecuali berdasarkan penerimaan (terhadap amalnya) dan ketakwaan.Boleh jadi ada orang yang kusut dan lusuh berdebu datang kepada Allah, lalu Allah menerima ibadahnya dan pada saat yang sama,para raja tidak diterima oleh-Nya.
Kemudian Khalifah berjalan menuju orang tersebut,lalu dia mendapatinya masih melaksanakan shalat, khusyu' di dalam ruku'dan sujudnya. Sedangkan orang-orang duduk di belakang,di sebelah kanan dan kirinya,lalu Khalifah duduk di barisan paling belakang dari majlis tersebut dan mendudukkan kedua anaknya di situ.
Mulailah dua anak muda Quraisy ini mengamati laki-laki yang dituju Amirul mu'minin (bapak mereka) dan duduk bersama orang-orang awam lainnya; menunggunya hingga selesai dari shalatnya. Ternyata orang itu adalah seorang tua yang berasal dari Habasyah, berkulit hitam, berambut keriting lebat dan pesek hidungnya. Jika dia duduk tampak bagaikan gagak hitam.
* * *
Ketika orang itu telah selesai dari shalatnya, dia menoleh ke arah dimana Khalifah berada.Lalu Sulaiman bin Abdul Malik, sang khalifah memberi salam dan orang itu membalasnya.
Saat itulah Khalifah menyongsongnya dan bertanya tentang manasik haji, dari satu hal ke hal lainnya, dan orang itu menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang rinci sehingga tidak memberikan kesempatan lagi bagi si penanya untuk bertanya lagi. Dan dia juga menisbahkan setiap perkataan yang diucapkannya kepada sabda Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam.
Ketika Khalifah telah selesai mengajukan pertanyaannya, beliau mengucapkan, "Mudah-mudahan Allah membalas anda dengan kebaikan," dan beliau berkata kepada kedua putranya, "Berdirilah," lalu keduanya berdiri. Kemudian mereka bertiga berlalu menuju tempat sa'i. Ketika mereka bertiga di pertengahan jalan menuju tempat sa'i, antara Shafa dan Marwa, kedua anak muda itu mendengar ada orang-orang yang berseru, "Wahai kaum muslimin, siapapun tidak boleh memberi fatwa kepada orang-orang di tempat ini, kecuali 'Atha'bin Abi Rabah. Dan jika dia tidak ada, maka Abdullah bin Abi Najih. Maka salah satu dari kedua anak muda itu menoleh kepada ayahnya seraya berkata, "Bagaimana mungkin pegawai Amirul mu'minin bisa menyuruh orang-orang supaya tidak meminta fatwa kepada siapapun selain kepada 'Atha'bin Abi Rabah dan sahabatnya kemudian kita telah datang meminta fatwa kepada orang ini? seorang yang tidak peduli
terhadap kehadiran Khalifah dan tidak memberikan penghormatan yang layak terhadapnya?"
Maka Sulaiman berkata kepada putranya, "Orang yang telah kamu lihat -wahai anakku-dan yang kamu lihat kita tunduk di depannya inilah 'Atha'bin Abi Rabah, pemilik fatwa di Masjid Haram dan pewaris Abdullah bin Abbas di dalam kedudukan yang besar ini." Kemudian Khalifah melanjutkan perkataannya, "Wahai anakku, tuntutlah ilmu, karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi mulia, orang yang malas akan menjadi pintar dan budak-budak akan melebihi derajat raja."
* * *
Perkataan Sulaiman bin Abdul Malik kepada putranya tentang masalah ilmu tidaklah berlebihan. Karena 'Atha' bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan penduduk Mekkah. Akan tetapi, Allah 'Azza wa Jalla memuliakan budak Habasya ini, dengan meletakkan kedua kakinya semenjak kecil di jalan ilmu. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian: Satu bagian untuk majikan perempuannya, mengabdi kepadanya dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan sempurna. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. Waktu ini dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya, sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Dia banyak berguru kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam yang masih hidup, dan menyerap ilmu-ilmu mereka yang banyak dan murni. Dia berguru kepada Abu Hurairah, 'Abdullah bin Umar, 'Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Az-Zubair dan sahabat-sahabat mulia lainnya radliyallâhu 'anhum, sehingga hatinya dipenuhi ilmu, fiqih dan riwayat dari Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam.
* * *
Ketika Majikan perempuannya melihat bahwa budaknya telah menjual jiwanya kepada Allah dan mewakafkan hidupnya untuk mencari ilmu, maka dia melepaskan haknya terhadap 'Atha', kemudian memerdekakannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah 'Azza wa Jalla, Mudah-mudahan Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.
Semenjak hari itu, 'Atha'bin Abi Rabah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat tinggalnya, sebagai rumahnya, tempat dia berteduh dan sebagai sekolah yang didalamnya itu dia belajar, sebagai tempat shalat yang dia bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan dan keta'atan. Hal ini membuat ahli sejarah berkata, "Masjid Haram menjadi tempat tinggal 'Atha'bin Abi Rabah kurang lebih dua puluh tahun."
* * *
'Atha'bin Abi Rabah seorang tabi'i yang mulia ini telah sampai kepada kedudukan yang sangat tinggi di bidang ilmu dan sampai kepada derajat yang tidak dicapai, kecuali oleh beberapa orang semasanya. Telah diriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa, maka 'Abdullah berkata, "Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada 'Atha' bin Abi Rabah?!"
* * *
'Atha' bin Abi Rabah telah sampai pada derajat agama dan ilmu dengan dua sifat: Pertama: Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas jiwanya. Dia tidak memberikan kesempatan padanya untuk bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak berguna.
Kedua: Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas waktunya. Dia tidak membiarkannya hanyut di dalam perkataan dan perbuatan yang melebihi keperluan.
Muhammad bin Suqah bercerita kepada pengunjungnya, "Maukah kamu mendengar suatu ucapan, barangkali ucapan ini dapat memberi manfaat kepadamu, sebagaimana ia telah memberi manfaat kepadaku?" Mereka berkata, "Baik." Dia berkata, "Pada suatu hari, 'Atha' bin Abi Rabah menasehatiku, Dia berkata, 'Wahai keponakanku, Sesungguhnya orang-orang sebelum kami dahulu tidak menyukai perkataan yang sia-sia." Lalu aku berkata, 'Dan apa perkataan yang sia-sia menurut mereka?'' Atha'berkata, 'Dahulu mereka menganggap setiap perkataan yang bukan membaca atau memahami Kitab Allah 'Azza wa Jalla sebagai perkataan sia-sia. Demikian pula dengan bukan meriwayatkan dan mengkaji hadits Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wasallam atau menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar atau ilmu yang dapat membuat kita dekat kepada Allah Ta'ala atau kamu berbicara tentang kebutuhanmu dan ma'isyahmu yang harus dibicarakan. Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepadaku dan berkata, Apakah kamu mengingkari?
Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)" (Al-Infithar: 10)
Dan bersama setiap kamu ada dua malaikat "Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir "(Qaaf,ayat:17-18).
Kemudian dia berkata, "Apakah salah seorang di antara kita tidak malu, jika buku catatannya yang dia penuhi awal siangnya dibuka di depannya, lalu dia menemukannya apa yang tertulis di dalamnya bukan urusan agamanya dan bukan urusan dunianya."
* * *
Allah Azza wa Jalla benar-benar menjadikan ilmu 'Atha' bin Abi Rabah bermanfaat bagi banyak golongan manusia. Di antara mereka ada orang-orang yang khusus ahli ilmu dan ada orang-orang pekerja dan lain-lainnya.
Imam Abu Hanifah An-Nu'man bercerita tentang dirinya. Dia berkata: Aku telah berbuat kesalahan dalam lima bab dari manasik haji di Makkah, lalu tukang cukur mengajariku, yaitu bahwa kalu aku ingin mencuckur rambutku supaya aku keluar dari ihram, lalu aku sewaktu hendak cukur, aku berkata, "Dengan bayaran berapa anda mencukurrambutku?" Maka tukang cukur itu menjawab: “Semoga Allah memberi petunjuk kepada Anda.”
Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran, duduklah dan berikan sekedar kerelaan. "Maka aku merasa malu dan aku duduk, namun aku duduk dalam keadaan berpaling dari arah kiblat. Lalu tukang cukur itu menoleh ke arahku supaya aku menghadap kiblat, dan aku menurutinya, dan aku semakin grogi. Kemudian aku menyilakannya supaya dia mencukur kepalaku sebelah kiri, tetapi dia berkata, "Berikan bagian kanan kepala Anda, lalu aku berputar. Dan mulailah dia mencukur kepalaku, sedangkan aku terdiam sambil melihatnya dan merasa kagum kepadanya. Lalu dia berkata kepadaku, "Kenapa Anda diam? Bertakbirlah." Lalu aku bertakbir, sehingga aku berdiri untuk siap-siap pergi. Lalu dia berkata: “Ke mana Anda akan pergi?” Maka aku menjawab, "Aku akan menuju kendaraanku." Lalu dia berkata, “Shalatlah dua rakaat, kemudian pergilah kemana Anda suka." Lalu aku shalat dua rakaat dan aku berkata di dalam hati, "Seorang tukang cukur tidak akan berbuat seperti ini, kecuali dia adalah orang yang berilmu." Maka aku berkata kepadanya: “Dari mana Anda dapatkan manasik yang Anda perintahkan kepadaku ini?” Maka dia berkata: “Demi Allah, aku telah melihat 'Atha' bin Abi Rabah melakukannya lalu aku mengikutinya dan aku mengarahkan orang lain kepadanya.
* * *
Dunia telah berdatangan kepada 'Atha' bin Abi Rabah namun dia berpaling dan menolaknya dengan keras. Dia hidup sepanjang umurnya hanya dengan mengenakan baju
yang harganya tidak melebihi lima dirham.
Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka. Akan tetapi bukannya dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam.
Di antaranya seperti yang diceritakan oleh Utsman bin 'Atha' Al-Khurasani, dia berkata, "Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya.serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, "Siapa ini?"
Maka ayah berkata, "Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz 'Atha' bin Abi Rabah."
Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya. Orang itu juga turun dari himarnya, lalu keduanya berpelukan dan saling menyapa. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya,sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang, keduanya dipersilakan masuk. Ketika ayah telah ke luar, aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku, tentang apa yang Anda berdua lakukan, maka ayah berkata, "Ketika Hisyam mengetahui bahwa 'Atha'bin Abi Rabah berada di depan pintu, beliau segera mempersilakannya masuk-dan demi Allah, aku tidak bisa masuk, kecuali karena sebab dia, dan ketika Hisyam melihatnya, beliau berkata, “Selamat datang, selamat datang. Kemari, kemari,” dan terus beliau berkata kepadanya, “Kemari, kemari,” sehingga beliau mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya, dan menyentuhkan lututnya dengan lututnya.
Dan di antara orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar, dan tadinya mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata, "Apa keperluan Anda wahai Abu Muhammad?" 'Atha'berkata, "Wahai Amirul Mu'minin, Penduduk Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, "Baik. Wahai ajudan, tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.”
Kemudian Hisyam berkata, “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?" 'Atha' berkata, "Ya wahai Amirul mu'minin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti Arab dan pemuka Islam, maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka." Maka Hisyam berkata, "Baik. Wahai ajudan, tulislah, bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka."
"Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?" Dia berkata: “Ya, wahai Amirul mu'minin. Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan, mereka berdiri di depan musuh-musuh Anda, dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin, maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau mereka mati, maka perbatasan akan hilang."
Maka Hisyam berkata, "Baik. Wahai ajudan, tulislah, supaya dikirim rizki kepada mereka."
"Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?"
'Atha' berkata, "Ya,wahai Amirul mu'minin. Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu, karena apa yang Anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk Anda atas musuh Anda."
Maka Hisyam berkata, "Wahai ajudan, tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu."
"Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”
'Atha' berkata: “Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri Anda wahai Amirul mu'minin, dan ketahuilah bahwa Anda diciptakan di dalam keadaan sendiri, dan anda akan mati didalam keadaan sendiri, dan Anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan Anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang Anda lihat bersama Anda."
Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu 'Atha' berdiri dan aku berdiri bersamnya. Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti 'Atha' dengan membawa kantong, dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, dan orang itu berkata kepadanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin mengirim ini kepada Anda." Maka 'Atha' berkata, "Maaf aku tidak akan menerima ini."
"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu;upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam "(Asy-Syuara',ayat:109)
Demi Allah, sesungguhnya 'Atha' menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.
* * *
Selanjutnya 'Atha' bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa. Dan dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah.
Ketika dia wafat, dia di dalam keadaan ringan dari beban dunia. Banyak berbekal dengan amal akhirat. Selain itu, dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali, beliau melakukan di dalammya 70 kali wukuf di arafah.
Di sana dia memohon kepada Allah keridhaan-Nya dan surga-Nya.
Dan memohon perlindungan kepada-Nya dari murka-Nya dan dari neraka-Nya.

Tarjamah: Min Suari Hayatut Taabi'iin