Tampilkan postingan dengan label Tadzkirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadzkirah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

A S A

Ada banyak air mata, tapi lebih banyak tawa dan bahagia. Waktu terus berjalan, kadang kita menepi sejenak di perhentian hari. Tapi aku tahu, hari-hari ke depan kerja ini akan terus bergulir. Tak boleh berhenti karena yang berhenti akan terlindas zaman.”

“ Memang lebih baik menyalakan lilin daripada mencaci kegelapan. Meyakini bahw kita akan mewujudkan mimpi bersama-sama dengan terus berjuang. Tak hanya kata tapi dengan perbuatan.”

Senin, 01 Februari 2010

M I R I S

1 Februari 2009
 
Miris…, ya sungguh sangat miris. Ketika imam masjid bacaannya salah dan tak ada yang bisa membenarkan, kesalahnnya harus dilimpahkan kepada siapa?

Makmum? Atau imam itu sendiri?

Hari ini, ketika shalat isya berjama’ah di masjid, tiba-tiba saja imam lupa dengan bacaannya, kemudian beliau mengulangnya hingga beberapa kali tetapi tidak satupun dari makmum yang membenarkan atau meneruskan.

Rabu, 11 November 2009

PILIHAN UNTUK PARA MUSLIMAH


-->
Ehem, ehem...mmm … Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam. Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan “jempolan”. Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajarkah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, “… dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu …” (QS/ Al-Baqarah:221). Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami. Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang ‘lebih’ dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.

Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.
Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar,” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?” Beliau menjawab, “Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia.” (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)

Imam Asy Syaukani mengatakan, “orang yang kamu ridhai karena agama dan akhlaqnya” dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan kalangan tabi’in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman: “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya.”

Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaqnya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.

Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang …ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta. Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya

Senin, 24 Agustus 2009

MISTERI PROFILE ID FACEBOOK

Tulisan ini ana copy dari blog seseorang:

Salah satu jejaring sosial yang saat ini sedang naik daun, yakni Facebook. Boleh dikatakan sedang buming-bumingnya dikalangan anak-anak, anak remaja, orang tua, bahkan kakek nenek. Mereka semua memanfaatkannya dengan begitu antusias dan bersemangat menuliskan apa yang mereka pikirkan pada saat itu pula.
Tapi sadarkah kita, ada sesuatu yang menarik perhatian khususnya saya pribadi tentang profile id facebook. Sebenarnya saya kemarin jalan-jalan kesalah satu blog yang ada dishoutmix saya? (sebelumnya maaf saya lupa blognya, nanti kalo sudah ketemu pasti ada saya cantumkan). Didalam blognya terdapat satu keterangan yang menurut saya patut diperhitungkan, tapi entah bagi sebagian lagi (mohon pendapatnya setelah tulisan ini selesai?). Dari yang dijelaskan di blog itu, bahwa ada Misteri yang meliputi facebook. kebetulan yang diambil adalah profile id facaebook. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa harus id?
Singkatnya begini, setelah kita mendaftar di facebook, pasti kita semua akan mendapatkan profile id semisal http://www.facebook.com/profile.php?id=1116640205. Nah bagi mereka yang ahli dibidang data base (maaf penulis bukan ahlinya data base) pasti tau donk apa arti id=1116640205. Dalam blog dan sumber yang saya dapat, ternyata mereka memcoba mengutak atik untuk id=1 sampe id=100. berikut cara mereka mengutak-atik id tersebut......

ternyata id 1 sampe 3 9a ada value nya alias kosong so bakal redirect k halaman home ...

nah ternyata id=4 muncul tuh ... http://www.facebook.com/profile.php?id=4 nah ternyata itu adalah acc nya Mark Zuckerberg, alias yang punya FB ...

9w coba lagi id=5 ... muncul tuh acc nya Chris Hughes, salah satu pendiri facebook juga http://www.facebook.com/profile.php?id=5

pas 9w coba 6, eh value nya kosong ...

9w coba lagi id=7 ... muncul lah acc Arie Hasit ,,,

coba lagi 8,9,10 ternyata kosong ,,,

dan 9w coba id=11 ,,, ternyata acc nya Soleio ...

dari id 12-25 kosong trus ,,, dan baru ada value nya lagi di id=26 sampe id 32

di id=33 valuenya kosong juga ,,,

nah, sebenernya 9w belom dapet mecahin maksud dari id2 yang kosong dan mengapa mulai dari 4,5,7,11 etc ...

9w coba googling dengan keyword 45711, 4 5711 45 711 457 11, etc ... akhirnya 9w kepikiran untuk mecahin jadi tanggal pada bagian 711 ,,, jadi 7 november ... dan yang 9w temuin d google adalah



itu adalah Alpha Epsilon Pi, yaitu organisasi persaudaraan yahudi d amerika selatan yang didirikan pada tanggal 7 november ...

kenapa 9w iseng banget utak-atik id FB? coz sama2 kita tau kalo pendiri2 FB kebanyakan yahudi ... biasanya yahudi tuh bikin isyarat2 atau simbol2 gitu ... contoh nya peristiwa 11 september (9/11) ,,, trus emergency call 911 ... maka nya 9w penasaran ,,,

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1772261

Itulah kenapa saya jadi penasaran...... dan yang tau dari maksud didirikannya facebook adalah yang mendirikannya dan tentunya Allah SWT.

" KARENA KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH SWT DAN DATANGNYA PUN DARI ALLAH SWT "

Salam Blogger Semua, smoga bermanfaat....

http://bangbowo-tulisanku.blogspot.com/2009/08/salah-satu-jejaring-sosial-yang-saat.html

Rabu, 12 Agustus 2009

MULAILAH MEMBERI

-->
Bila tak seorangpun berbelas kasih pada kesulitan kita, atau tidak ada yang merayakan keberhasilan kita, atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan apa pun pada diri kita, jangan masukkan dalam hati.....
Manusia itu selalu disibukkan dengan urusannya sendiri. Kita tidak perlu memasukkannya ke dalam hati, karena hanya akan menyesakkan dada dan membebani langkah kita. Mari ringankan hidup kita dengan senantiasa memberi , berbagi dengan yang lain. Semakin banyak kita memberi, semakin mudah kita memikul hidup ini.
Marilah kita berdiri di depan jendela, memandang keluar dan tanyakan pada diri kita, apa yang bisa kita berikan pada dunia ini. Pasti ada alasan kuat mengapa kita hadir di dunia ini. Bukan untuk meminta ataupun merengek agar dunia menyanjung kita. Keberadaan kita bukan untuk kesia-siaan. Perhatikanlah cacing, bahkan mereka diciptakan pun untuk mengemburkan tanah . dan sebongkah batu dipadatkan utnuk menahan gunung. Alangkah hebatnya kita dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun utnuk mengubah dunia. Itu hanya bila kita mau memberikannya.
Apa yang akan kita beri? suka kita, ataukah duka kita? Kita ingin menjadi pribadi yang banyak manfaat ataukah sebaliknya?
Let’s change the world with love…!!!
Anis Matta bilang, Cinta adalah memberi . iyakah?
Diadopsi dari berbagai sumber

Rabu, 22 Juli 2009

DOA SANG JUARA









Banyak yang posting tulisan ini, kita tidak melihat itu, tapi mari kita memetik hikmah dibalik cerita berikut:

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri,sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Ahmadlah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Ahmad bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Ahmad meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,

"Ya, aku siap!"

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju," begitu teriak mereka.

Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Ahmadlah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
"Alhamdulillah."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah agar kamu menang, bukan?"

Ahmad terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Ahmad.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya mohon pada Allah supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Saudaraku..., anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua.
Ahmad, tidaklah memohon pada Allah untuk menang dalam setiap ujian. Ahmad, tak memohon Allah untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Allah mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Ahmad, bermohon pada Allah, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Allah untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Allah untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Allah, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Allah
memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Allah sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh.

Jadi Saudaraku....... berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua.
Amin

Minggu, 19 Juli 2009

Keterbatasan Waktu

Seseorang divonis mati oleh dokter, dan selama sisa hidupnya ia harus didampingi oleh dokter.
Tapi ia memilih keputusan radikal, dia mau menikmati sisa hidupnya dengan berkeliling dunia tanpa dampingan dokter.
Suatu ketika ia pergi berlayar, ia menikmati indahnya samudera luas, menghirup udara lautan yang segar.

Kemudian ia curhat pada nahkoda tentang penyakitnya. Bahwa ia tidak pernah menjadikan penyakitnya itu adalah batas waktunya. Nahkoda pun berdecak kagum padanya, tidak ada kekhawatiran dari ronanya. Wajahnya berbinar, tak nampak dari rautnya bahwa ia mengidap penyakit kronis. Kelihatannya ia begitu bebas tanpa tekanan.
Tiba waktu yang telah ditentukan dokter, tapi ia masih saja hidup, ia tidak mati.
Kenapa?
Karena kebahagiaanya dalam keterbatasan waktu...

Rabu, 08 Juli 2009

Sedih : Bukan Bagian Diri Kita

Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa (QS Yunus: 62-63)

Dalam perjalanan panjang ini, suka, duka, senang, sedih, susah dan bahagia datang silih berganti menyapa tiap ayunan langkah kaki kita.
Sejatinya, dalam dakwah ini, tak akan ada duka yang menggerogoti jiwa, karena janji abadi Sang Pengasih “tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati”

Namun pada kenyataannya tak jarang kita bersedih hati, merasa takut tak bisa memberikan sumbangsih padahal kita telah ikrarkan dalam hati, hidup mulia atau mati syahid.

Saudaraku…
Tegaskan pada diri kita, kesedihan bukan bagian diri kita.
Kita adalah orang-orang yang beriman yang senantiasa mendekatkan diri kepada Rabbul Izzati, kita senantiasa bertaqarrub hanya untuk menyandang gelar taqwa, lalu kenapa kita masih saja bersedih? Kesedihan yang entah apa penyebabnya, kadang hadir dan kita tidak tahu dari mana ia berasal.

Saudaraku…
Liahatlah, telitilah, pasti ada yang perlu diperbaiki dari diri kita.
Bila kita selalu saja merasa sedih, maka berdoalah

اللهم إني أعوذ بك من الهمّ و الحزن

Sepertinya kita perlu memperbaiki kedekatan kita pada-Nya
Mungkin saja, tanpa kita sadari ternyata kita jauh dari-Nya.

Allahu A’lam

Senin, 06 Juli 2009

S A H A B A T


-->
Sahabatku bukan malaikat, ia tak punya sayap, ia tidak bisa terbang ke langit, tapi ia selalu membantuku tuk terbang menggapi mimpi-mimpiku.

Sahabatku bukan professor, ia tak bisa menghafal lebih dari 100 kata per hari, tapi ia bisa menjelaskan dunia dan makna cinta kepadaku

Sahabatku bukan pelawak, ia tidak lucu dan konyol, ia bukan badut, tapi ia bisa menghiburku

Sahabatku bukan Tuhan yang selalu memenuhi kebutuhan dan harapanku, tapi ia membuatku mengerti bahwa kami saling membutuhkan.

Terima kasih SAHABAT, atas segala perhatian dan kebaikanmu.

R A P U H


-->
“Ternyata, ana rapuh sobat.” Keluh seorang kawan.
Jadi ingat nasyidnya Mas Opick nih, nyanyi dulu ah….
RAPUH
Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka, tangis dan tawa
tergores bagai lukisan
Seribu mimpi berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata
Kupersembahkan kepada-Mu
Yang terindah dalam hidupku
Reff:
Meski kurapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepada-Mu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu
Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dada kuharap hanya
Diri-Mu yang bertahta
Detik waktu terus berlalu
Semua berakhir padamu
Subhanallah, liriknya sangat menyentuh. Tau nggak teman-teman, awal ku dengar nasyid ini, mataku langsung terasa hangat, dadaku sesak, tangispun pecah dalam haru biru. Hiks…8x
Kembali ke laptop:
Ngomong-ngomong tentang RAPUH itu sendiri, yang terlintas dalm benakku adalah rumah yang tiangnya mulai lapuk. Biasanya, orang akan menyandingkan kayu lapuk itu dengan kayu lain yang cukup kuat untuk menyokong tiang itu supaya rumahnya tidak roboh.
Nah, bagaimana kalau yang rapuh itu ternyata jiwa kita?
Itu artinya kita butuh penyokong. Kita butuh orang lain yang bisa mendukung, mensupport kita. Iya nggak?
Kita butuh sahabat, cerminan diri yang ‘kan senantiasa mengingatkan kita, membantu kita dalam berta’abbud dan bertqarrub pada-Nya.
Saudaraku…
Dalam mengarungi bahtera dakwah yang tak berujung ini, sejatinya, kita butuh teman. Sebagaimana Rasulullah SAW kepada Abu Bakar RA, beliau adalah rafiqah (sahabat sejati) baginya. Seperti Musa AS yang membutuhkan Harun AS, dan keduanyapun dipersaudarakan di jalan-Nya.
Mari kita senantiasa bermunajat, melantunkan do’a Nabi Zakariyya AS dalam QS Al-Anbiya’ : 89
ربّ لا تذرني فردا و أنت خير الوارثين
Wahai Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris yang paling baik
Saudaraku, tetap tegar dengan selaksa dakwah, sesungguhnya, kita tak pernah sendiri.
لا تحزن إنّ الله معنا