ingin kubungkam mulutmu.
kata yang terlontar seperti peluru yang kau tembakkan tepat di jantungku
Ingin kuhapus, tulisanmu
jejak kata bagai granat yang meledakkan jiwa-jiwa hampaku
Tapi apa dayaku?
Kau menikamku, aku akan hanya akan tersenyum
tersenyum sinis tak bisa berbuat apa-apa
Kau... membuatku "mati"
tapi Allah membiarkan hatiku tetap mencintaimu
Cintaku padamu, kelemahanku.
Aku tak bisa membalas lakumu.
bukan karena aku tak sanggup
rasa sayangku membuatku tak tega
ukhti........
Kenapa?
Selasa, 19 Mei 2009
Senin, 18 Mei 2009
Ukhti yang Suci
Ukhti....
Aku menyesal kenapa kaumesti tahu semua ini
Kini kau tersiksa karenaku
Tersiksa karena tak pernah kau ungkapkan resahmu
Mungkin kau lupa satu hal
AKU PERASA...
Aku membaca yang tak mereka baca
Sorot matamu, aku melihat kegundahan dan ketidak sukaanmu.
Caramu menghindar, seperti melihat hal yang menjijikkan.
ukhti...
Maafkan.... Aku begitu malu padamu
entah bagaimana saya harus bersikap
Kau terlalu Suci bagiku
dan tulisanmu...
Ah, entah kenapa seperti belati yang mengoyak hati
tulisanmu, air mataku.
tulisanmu, bui kebebasanku.
tulisanmu, tamparan buatku.
Mungkin aku pantas menerimanya.
tapi ukhti...
kalau kau memang peduli, kenapa tak tegur?
Kalau kau memang tak suka, kenapa tak kau ungkapkan?
takut menyakitiku?
Aku lebih sakit dengan caramu yang seperti ini.
Ukhti...
Kau tahu aku tersesat, mengapa tak kau tuntun diriku?
Kau tahu aku tenggelam, mengapa tak kau ulurkan tanganmu?
dan kau tahu? aku menggapai-gapai mencari pegangan tapi tak ada yang pdulikanku, termasuk kau.
Aku terasing, kau tak menyapa.
membiarkanku bingung tak tahu arah.
dan diammu, diamnya SYAITHAN. Pahamilah!!!
Aku menyesal kenapa kaumesti tahu semua ini
Kini kau tersiksa karenaku
Tersiksa karena tak pernah kau ungkapkan resahmu
Mungkin kau lupa satu hal
AKU PERASA...
Aku membaca yang tak mereka baca
Sorot matamu, aku melihat kegundahan dan ketidak sukaanmu.
Caramu menghindar, seperti melihat hal yang menjijikkan.
ukhti...
Maafkan.... Aku begitu malu padamu
entah bagaimana saya harus bersikap
Kau terlalu Suci bagiku
dan tulisanmu...
Ah, entah kenapa seperti belati yang mengoyak hati
tulisanmu, air mataku.
tulisanmu, bui kebebasanku.
tulisanmu, tamparan buatku.
Mungkin aku pantas menerimanya.
tapi ukhti...
kalau kau memang peduli, kenapa tak tegur?
Kalau kau memang tak suka, kenapa tak kau ungkapkan?
takut menyakitiku?
Aku lebih sakit dengan caramu yang seperti ini.
Ukhti...
Kau tahu aku tersesat, mengapa tak kau tuntun diriku?
Kau tahu aku tenggelam, mengapa tak kau ulurkan tanganmu?
dan kau tahu? aku menggapai-gapai mencari pegangan tapi tak ada yang pdulikanku, termasuk kau.
Aku terasing, kau tak menyapa.
membiarkanku bingung tak tahu arah.
dan diammu, diamnya SYAITHAN. Pahamilah!!!
Nasehat Imam Ghazali
Iman Ghazali : Wahai murid-muridku, apa yang paling JAUH dari kehidupan ini?
Murid : Matahari, bulan, bintang, planet dan lain-lain.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling jauh dari kehidupan ini adalah WAKTU yang telah berlalu karena ia tidak akan pernah kembali.
Imam Ghazali : Wahai muridku, menurutmu apa yang paling DEKAT dari kehidupan kita ini?
Murid : Suami, isteri, anak, harta, kerabat.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling dekat dari kehidupan kita adalah KEMATIAN karena ia selalu mengintai kita setiap saat, dimanapun dan kapanpun kita berada. Kita selalu mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan namun melupakan untuk menghadapi kematian.
Imam Ghazali : Wahai muridku, menurutmu, apa yang paling BESAR dari kehidupan kita ini?
Murid : Gunung, laut, Alam semesta.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling besar dari kehidupan ini adalah HAWA NAFSU karena hawa nafsu dapat membuat orang melek menjadi buta. Baik menjadi buruk. Haram menjadi halal. Hitam menjadi putih.
Imam Ghazali : Wahai muridku menurutmu apa yang paling KECIL dan RINGAN dari kehidupan kita ini?
Murid : Pasir, debu, atom.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling kecil dan ringan sdari kehidupan ini adalah MENINGGALKAN SHALAT, bila meninggalkan shalat telah menjadi perkara kecil dan ringan dengan alasan sibuk, bias di qadha atau dibayar fidhyah, maka perkara besar lainnya akan menjadi ringan untuk ditinggalkan.
Imam Ghazali : Wahai muridku menurutmu apa yang paling TAJAM dari kehidupan kita ini?
Murid : Silet, pisau, tobak, mata pedang.
Imam Ghazali :Sesungguhnya yang paling tajam dari kehidupan ini adalah LIDAH karena bila lidah telah melukai hati maka ia akan sulit untuk diobati dan disembuhkan. Karena bila hati telah retak, maka ia tak akan bias lagi untuk diperbaiki.
Murid : Matahari, bulan, bintang, planet dan lain-lain.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling jauh dari kehidupan ini adalah WAKTU yang telah berlalu karena ia tidak akan pernah kembali.
Imam Ghazali : Wahai muridku, menurutmu apa yang paling DEKAT dari kehidupan kita ini?
Murid : Suami, isteri, anak, harta, kerabat.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling dekat dari kehidupan kita adalah KEMATIAN karena ia selalu mengintai kita setiap saat, dimanapun dan kapanpun kita berada. Kita selalu mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan namun melupakan untuk menghadapi kematian.
Imam Ghazali : Wahai muridku, menurutmu, apa yang paling BESAR dari kehidupan kita ini?
Murid : Gunung, laut, Alam semesta.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling besar dari kehidupan ini adalah HAWA NAFSU karena hawa nafsu dapat membuat orang melek menjadi buta. Baik menjadi buruk. Haram menjadi halal. Hitam menjadi putih.
Imam Ghazali : Wahai muridku menurutmu apa yang paling KECIL dan RINGAN dari kehidupan kita ini?
Murid : Pasir, debu, atom.
Imam Ghazali : Sesungguhnya yang paling kecil dan ringan sdari kehidupan ini adalah MENINGGALKAN SHALAT, bila meninggalkan shalat telah menjadi perkara kecil dan ringan dengan alasan sibuk, bias di qadha atau dibayar fidhyah, maka perkara besar lainnya akan menjadi ringan untuk ditinggalkan.
Imam Ghazali : Wahai muridku menurutmu apa yang paling TAJAM dari kehidupan kita ini?
Murid : Silet, pisau, tobak, mata pedang.
Imam Ghazali :Sesungguhnya yang paling tajam dari kehidupan ini adalah LIDAH karena bila lidah telah melukai hati maka ia akan sulit untuk diobati dan disembuhkan. Karena bila hati telah retak, maka ia tak akan bias lagi untuk diperbaiki.
Sabtu, 16 Mei 2009
Ibunda, Kenapa Engkau Menangis
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak," "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?" Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?" Dalam mimpinya, Allah menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan."
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup
Rabu, 06 Mei 2009
Resahan Hati BUNDA
29 April 2009
Tadi pagi aku berpapasan dengan bunda. Matanya bengkak dan merah, suaranya parau. Bisa dipastikan dia baru saja menangis. Tentu bunda sangat sedih. Semingu lagi beliau tidak akan masak untuk kami lagi, mahasiswa Azhar center. Iba juga melihatnya begitu sedih. Aku bisa memahami perasaanmu bunda.
Malam hari giliranku ambil makanan di rumah bunda. Meski agak sangsi, aku berusaha bersikap seadanya seperti hari-hari biasanya. Anggap saja kalau tidak pernah ada kabar bahwa bunda tidak akan masak untuk kami lagi.
Tapi, ada yang lain dari mimik bunda. Tidak seperti biasanya. Aku juga tak sanggup menatap wajahnya. Wajah yang sudah dimakan usia itu terpancar kesedihan meskipun berusaha ia sembunyikan, matamu tak bisa berbohong bunda
Oh bunda… kau membuat kami serba salah.
Disatu sisi, kami ingin selalu dimasakkan olehmu, karena selama ini keberadaanmu sangat membantu kami, agar kami bisa lebih konsentrasi belajar.
Meskipun terasa berat, Tapi apa boleh buat. ini adalah kebijakan yayasan, dan kami yakin, inilah yang terbaik untuk kami, setidaknya untuk saat ini. Selain itu, alasan yang mendasar juga adalah untuk masa depan kami. Bagaimanapun, kami ini wanita, masa depan kami sebagian besarnya tergantung dapur-dapur kami nantinya. Jujur saja masih ada diantara kami akhwat azhar yang masih terlalu kreatif menanak nasi. Nasi tiga macam. Hangus, masak dan mentah. Ajaib kan?
Untuk meraih kesuksesan memang di butuhkan pengorbanan. Dan kali ini bunda harus ikhlas, merelakan kami, anak-anakmu, lebih mandiri, tidak bergantung terus padamu.
Terima kasih banyak bunda atas pengabdianmu selam 3 tahun ini. Engkau mengajari kami banyak hal, engkau juga memberikan warna bagi perjalan hidup kami. Mengenalmu adalah sebuah ni’mat yang tak akan kami lupakan. Kami hanya bisa berdoa, semoga Allah membalas semual kebaikanmu pada kami semua.
We Love U bunda….
Rabu, 08 April 2009
Rihlah @ Barombong Beach
Hari libur adalah waktu yang sangat tepat untuk istirahat, memulihkan kondisi tubuh dari kelelahan dan kejenuhan dari padatnya aktivitas. Istirahat yang bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, bukan sekadar menghabiskan waktu tetapi mengisi waktu luang tersebut dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi jasmani dan ruhani kita.
Kami.... Akhawat Azhar Center memutuskan untuk rihlah usrah di Taman Rekreasi Barombong, Hari Senin-Ahad, 6-7 April 2008. Wah... kami akan mabit nih. berbagai perlengkapan telah kami siapkan. Mulai dari bahan makanan, minuman, pakaian untuk dua hari, sampai peralatan yang dibutuhkan seperti tikar, radio tape, lampu carger, dan sebagainya. Dan yang paling pentinga adalah menyiapkan kado atau hadiah untuk acara tukar kado nanti. Wah.... pasti seru... hihihih....
Selain itu, kami juga menyusun agenda pertunjukan seni dan kreativitas pada malam harinya. Ada drama, nasyid, taujih dalam bahasa Arab, dan lain-lain.
* * *
Ahad pagi, kami telah siap meluncur, lengkap dengan berbagai peralatan kami. Aku dan akhwat di Asrama 1 menunggu jemputan mobil untuk mengangkut barang-barang kami yang lumayan...wow buerat buangget... Akhirnya, mobilnya pun datang dan... Let's go....
Ada hal yang unik selama perjalanan, kami kesasar bo', hehehehe.....
ternyata, tak ada seorang pun di antara kami yang melijhat lokasinya, termasuk kakak pendamping (Kak Chia). So, kita melewati lokasinya sekitar 1 km. Gila... untungnya sekarang dah zaman modern, ada alat komunikasi canggih, HaPe. Dan juga setelah bingung tak temukan lokasi, kami pun bertanya pada masyarakat setempat
* * *
Akhirnya tiba juga di lokasi. Pukul 5 sore. Luar biasa indahnya menyaksikan sunset di pinggir pantai, warnanya merah saga bo'. Tapi sayang, kami tak sempat melihatnya terbenam, karena tertutup awan, hiks...hiks...hiks... kasihan deh.... :(
Menjelang Magrib, empunya rumah menjalankan aksinya sebagai instalater, memasang aliran listrik di rumah yang tak berdinding. wah... gawat...., apa disana nantinya kami nginap? di rumah dipasangi lampu itu? Hah...??? tak berdinding euy...
Padahal
bayangan kami, rumahnya tak seperti itu. Pengalaman masa SMA dulu,
ketika Bina Akrab ma Juniorku, bungalownya persis seperti Vila yang ada
di pinggir pantai, bukan rumah tak berdinding seperti ini.
wah...wah...wah.... pasti akan sangat dingin. Apalagi perlengkapan yang
kami siapkan, bukan pada situasi yang kurang kondusif seperti itu.
Tapi....
bukan masalah besar, paling efeknya cuma masuk angin. Yang tidak kalah
penting, tentunya akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Iya
nggak? Iya dong...
Kami shalat Maghrib berjama'ah, setelah itu, dinner jama'i, istirahat sejenak menunggu waktu Isya. Ma'da Isya, kamipun mulai beraksi, memulai semua agenda yang telah disiapkan. Diantanya: Ceramah Bahasa Arab oleh Ukh Syifa, yang saya pahami, bicara tentang keikhlasan. Kemudian Nasyid yang dibawajkan oleh 4 gadis manis, hihihi...., Unhee, Radhiah, Khaerah, and Asneey, setelah itu ada drama yang bertema tentang kehidupan asrama. Yah, lumayanlah...., sepertinya pesan yang sangat ingin mereka sampaikan kepada pihak yayasan adalah tentang masakan Bunda yang membuat mereka semua kutang nyaman. Hm.......
Tiba di penghujung acara, inilah yang dinanti-nanti.... Acara Tukar Kado.
Kado kami bukan property elit nan megah, super expensive, tapi... hanya pernak-pernik kecil-kecilan murah meriah. he...he...he.... Bukan kadonya yang penting, tapi intinya adalah Ukhuwah yang berusaha jalin, karena Nabi SAW pernah bersabda "Tahaaduu, tahaabbuu" artinya "saling memberilah hadiah agar kalian saling menyayangi," :)
Siapa yang menerima kado dariku ya?
Setelah
mengadakan penyisiran, ternyata Ukh Syifa. Gantungan kunci (aksesoris
kesukaanku) yang bertuliskan janji ukhueah di dalamnya. kemudian juga
selembar foto diriku, ukuran dompet, dan dibelakangnya kutuliskan dengan
tinta merah, yang artinya cinta:
“ Semoga selalu ada air mata dalam setiap kekerasan hati.
Semoga selalu ada maaf ditiap kemarahan ataupun kekecewaan.
Semoga selalu ada semangat disetiap kebosanan.
Semoga selalu ada cinta diantara jalinan ukhuwah”
Rihlah Usrah
At barombong beach
6-7 April’08
Dan dari siapa kado yang ada di genggamanku? tak ada namanya, sebuah tempat pensil merah. Sweety banget. Tak ada yang tahu itu punya siapa, tapi bukan Dely kalau tidak bisa tahu, akhirnya ketahuan juga, dari Ukh Tati Tator... hiks...hiks...hiks... terharu, Jazakillahu ukhti....
Kembali ke Acara:
Turut
hadir pula bersama kami Rektor STIS Azhar Center beserta istri dan
jundi-jundinya, juga ada Ustadzah Wardah bersama 3 bidadari ciliknya.
syang, mereka tidak berniat tuk mabit. ba'da selesainya agenda malam,
mereka pun meninggalkan lokasi karena ada hajat lain, juga karena
jagoannya yang kurang enak badan, sedangkan situasi kuran kondusif.
mereka pun pulang semua. yang tersisa hanya Kak Chia dan keluarga yang
senantiasa menjaga dan melindungi kami semua. tambahan 2 orang ikhwan
cukup menjaga (Suami Kak Chia, Ust. Wahyu dan rekannya).
Waktu tidur pun tiba. sudah banyak dari teman-teman yang sudah tumbang. Sedangkan aku belum mau tidur. Tiba-tiba peristiwa "UNIK" pun dimulai.......
Waktu tidur pun tiba. sudah banyak dari teman-teman yang sudah tumbang. Sedangkan aku belum mau tidur. Tiba-tiba peristiwa "UNIK" pun dimulai.......
dari
kejauhan aku melihat ada sosok yang semakin mendekati lokasi penginapan
kami, hah….tanpa baju men, sueksi bo’. Aku belum terlalu yakin dengan
penglihatanku, dan sosok itu semakin mendekat dan semakin nampak jelas
bahwa memang dia tak berbaju. Wanita tak berbaju, astagfirullahal azhim.
Pemandangan apa ini? Slebor, vulgar, horor.
Kemudian perempuan itu berteriak meminta kain pada kami untuk menutupi
tubuhnya, sontak teman-teman terbangun kaget dengan suara itu. Aku iba
pada perempuan ini, ingin rasanya langsung menyelimutinya dengan sarung,
sayang aku tidak punya sarung. Semuanya hanya diam terpaku, mungkin
masih bingung harus melakukan apa, dan disaat yang sama, Husra yang ada
di bawah rumah, yang paling dekat jaraknya dengan perempuan itu
memberikan sweaternya dan perempuan itupun pergi lagi. Salut buat kamu
Husra….
Suasana
langsung riuh, disana-sini penuh komnetar-komentar yang samar-samar di
telingaku, banyak prasangka dan curiga. Kemudian seseorang nyeletuk
“Kenapa kamu kasi sweater kamu sama orang itu?”
Astagfirullah,
aku sama sekali tidak menyangka akan ada yang menyalahkan tindakan
Husra yang menurutku itulah tindakan yang paling tepat dan semestinya
kita lakukan semua. Aku kecewa ma orang itu. Husra pun membela diri
“dari pada dia telanjang” Yupz, betul, 100 untuk Husra, itu alasan yang paling logis.
Kemudian
yang lain lagi nyeletuk, “dia itu datang minta tolong sama kalian
karena dia menganggap kalian itu pada baik-baik dan pasti menolongnya,”
wah… siapa itu? Orang itu dengan kata-katanya yang sangat bijaksana
sanggup merubah paradigm akhawat sekalian. Pengertian sekali, sejak saat
itu, sosok itu masuk dalam list Idolaku.
Belum lagi aman, tiba-tiba ada suara teriakan
“tolooong…..toooooolooonggg……,”
Kami terusik.
bersambung...........
bersambung...........
Selasa, 07 April 2009
Penulisan
Apapun alasan yang ada, saya memang senang menulis & saya akan memenuhi keinginan saya untuk tetap menulis. jika apa yang saya tulis adalah sesuatu yang benar maka alhamdulillah, tetapi jika tidak maka astagfirullah. saya yakin walaupun tulisan ini tidak bermanfaat, insya Allah tidak akan membawa mudarat namun keikhlasan yang saya inginkan & ALLAH sajalah yang memberi taufik.
Langganan:
Postingan (Atom)

