Selasa, 20 April 2010

Tetap DS

April 2009

Rabb…hari ini hamba kurang sehat. Apakah hamba di uji atau diminta istirahat dulu?
Begitu besarnya rasa sayang-Mu pada hamba.
Alhamdulillah…Engkau masih perhatian pada hamba.
Ya Rabb… tahu nggak? Kemarin saya pergi DS dalam keadaan yang sangaaaat mengantuk. Tapi lihatlah peejuanganku Ya Rabb…meski dalam komdisi yang seperti itu, hamba-Mu ini tetap memaksakan diri. Saya tidak ingin ketinggalan dalam perjuangan dakwah ini. Saya tidak ingin jadi penonton. Saya juga ingin turut adil membangun peradaban ini.
Semoga semuanya Engkau nilai sebagai mujahadah seorang hamba untuk mendapatkan cinta-Mu.
Rabb…Enkau yang kujadikan tempat curhat terbaikku, melalui pena-penaku yang lemah ini. Ampuni karena tidak sopan, Maafkan karena hamba lancang. Aku hanya ingin senantiasa bermanja-manja pada-Mu.
“Jangan Sampai kita semua melaporkan kerja-kerja pemenangan kita ke struktur, tapi dalam sepekan, kita tidak pernah melaporkannya kepada Allah SWT, meski hanya sekali sepekan.”
Rabb…Bantu hamba agar bisa bangun setiap malam. Merasakan ni’matnya berkhalwat dengan-Mu. Hari ini, esok dan seterusnya. Hingga akhirnya hamba bisa bertemu dengan-Mu, menatap ‘wajah’-Mu di surga firdaus-Mu karena limpahan ma’rifat, rahmat dan Cinta-Mu…. Amin….
Ya Allah…Bantu hamba menjadi pribadi yang tawazun.
Jangan sampai hamba menzhalimi orang lain ataupun diri sendiri, apalagi sampai menyakiti-Mu dan Rasul-Mu.
Mudah-mudahan semangat tuk memperjuangkan da’wah ini tak lebih besar dari semangat tuk memperbaiki diri. Begitupun sebaliknya.

Selasa, 16 Maret 2010

Cinta Rasulullah

Alangkah indahnya hidup ini

Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku

Karena pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini

Andai dapat Kukucup tanganmu

Moga mengalir keberkatan dalam diriku

Untuk mengikut jejak langkahmu


Ya Rasulullah ya habiballah

Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulullah ya habiballah

Kami rindu padamu

Allahumma shalli ala Muhammad

Ya rabbi shalli alaihi wasallim


Alangkah indahnya hidup ini

andai dapak kudekap dirimu

tiada kata yang dapat aku ucapkan

hanya Tuhan saja yang tahu


Kutahu cintamu kepada ummat

Ummati……ummati…………

Kutahu bimbangnya Kau tentang kami

Syafaatkan kami


Alangkah indahnya hidup ini

andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku

Karena pancaran ketenanganmu


Ya Rasulullah ya habiballah

Tak pernah kutatap wajahmu

Ya Rasulullah ya habiballah

Kami rindu padamu

Ya Rasulullah ya habiballah

Terimalah kami sebagai ummatmu

Ya Rasulullah ya habiballah
Karuniakanlah syafa’atmu

Selasa, 16 Februari 2010

Jalan Para Syuhadaa’

Di pusat semesta, aku belajar tentang pahitnya dunia dan derasnya air mata. Namun aku disini senantiasa bertahan karena akhir ini semua adalah bahagia, canda dan tawa. Aku tak ingin mengorbankan bahagiaku hanya untuk dukaku kelak.
Ini adalah jalan yang telah Ia gariskan. Tentunya Ia yangpaling tahu. Semoga inilah jalan yang terbaik. Jalan yang senantiasa menuntunku untuk bertemu Rabb-ku. Jalan yang mengantarkanku ke haribaan-Nya. Dalam dekapan cinta-Nya
Tapi…entah mengapa, jalan ini penuh dengan liku. Jalan yang sukar lagi mendaki, jalan ini dipenuhi dengan onak duri. Beribu perih hadir disini. Mulai dari yang paling kecil sekalipun sampai yang sangat besar. Kenapa? Aku lama berpikir. Jangan sampai aku salah jalan. Namun bisakah aku bertahan tanpa uluran teman-teman?
Ya rabb…karuniakanlah seorang teman bagiku. Teman yang senantiasa hadir dalam perjuanganku. Biarkan kami saling menopang dan menyokong satu sama lainnya dalam menggapai indahnya Cinta-Mu. Ya Rabb….jangan biarkan aku kesepian, sendiri meniti jalan yang kau tunjuki ini. Jangan biarkan hatiku ciut dan dikerumuni godaan-godaan yang terus merayuku untuk berpaling dari jalan ini. Berilah aku kesabaran dalam meretasnya, kuatkanlah keimananku. Jangan pernah goyahkan keimananku. Aku yakin inilah jalan itu… jalan para Syuhadaa. Matikanlah aku dalam keadaan husnul khaatimah, bersama para Al-Abraar. Amin

2009

Senin, 01 Februari 2010

M I R I S

1 Februari 2009
 
Miris…, ya sungguh sangat miris. Ketika imam masjid bacaannya salah dan tak ada yang bisa membenarkan, kesalahnnya harus dilimpahkan kepada siapa?

Makmum? Atau imam itu sendiri?

Hari ini, ketika shalat isya berjama’ah di masjid, tiba-tiba saja imam lupa dengan bacaannya, kemudian beliau mengulangnya hingga beberapa kali tetapi tidak satupun dari makmum yang membenarkan atau meneruskan.

Sabtu, 30 Januari 2010

30 January 2009

Lagi-lagi terlambat shalat subuh, jam sudah menunjukkan pukul 05.30 aku baru sadar dari tidurku sedangkan M*r*****h tengah membaca doa al-Ma’tsurat. Aku benar-benar dongkol, pasalnya bukan kali ini saja kudapati hal yang sepeti ini. Kenapa dia tidak membangunkanku?
Buru-buru aku mengambil air wudhu untuk shalat subuh. Setelah itu kembali ke kamar mengambil perlengkapan shalatku.
“Kenapa nggak membangunkanku M*r?” aku protes dengan nada jengkel
“Aku bangunkan berapa kali kok,” tukas M*r*****h.
Aku benar-benar jengkel. Dadaku sesak seperti tidak dapat bernafas, jiwaku diliputi kebencian. Aku tidak suka diriku yang seperti ini.
Aku berusaha konsentrasi sebelum akhirnya aku takbiratul ihram, tapi sulit sekali. Sedangkan jarum panjang jam dinding yang ada di kamarku telah mnunjuk angka 9, ya Rabb…bangaimana aku bisa khusyu sedangkan hatiku masih sulit kutata.
Kemudian aku beristigfar berkali-kali, tak terasa air matakukupun menetes tak bisa membendung rasa sakit hatiku, dan kuputuskan untuk segera menunaikan kewajibanku meski dengan perasaan tak tenang.
* * *
Aku susah dibangunkan. Memang. Untuk itu aku hubungi ustadzh R*****h minta izin supaya personel kamarku di tambah satu orang yang rajin yang bisa membantu kami (aku dan M*r) untuk bisa lebih bisa shalat tepat waktu. Ataupun memisahkan aku dan M*r dengan menggantinya dengan orang yang bisa membantu kami berdua. Dimataku ini baik, bukan saja untukku, aku tidak seegois itu, tetapi juga untuk M*r*****h. tentunya. Aku yakin, ia juga nggak enak terus membangunkanku tapi dasar akunya yang tidak bangun-bangun. M*r*****h. juga bukan orang yang rajin-rajin amat. Kalau aku yang minta terus dibangunkan, terus dia, siapa yang akan membangunkannya.
Ustadzah R*****h tidak merespon dengan baik
Aku sungguh-sungguh sangat kecewa padanya, ketika ia akhirnya membalas smsku
“Aslm. Saya lupa bilang masalah pindah kamar, sebaiknya ba’da ujian saja. Kalau masalah telat shalat bisa dilatih dengan kesadaran sendiri,”
Glek… :I

#Nasadar meka itu kodong,,, bukannya saya nda mau bangun tapi nda bangun memang. Hikz....

Kamis, 28 Januari 2010

28 January 2009

Ketika hendak melaksanakan shalat Magrib tadi, aku segera mengambil air wudhu agar bisa ikut takbiratul ihram bersama sang imam. Kamarku di lantai dua, mushallanya di lantai dasar. Saat menuruni tangga, aku berpikir bahwa aku harus hati-hati lewat sini karena ada paku di sebelah kanan yang sering mengait mukena kami anak asrama.
Tangga pertama dari atas, wah…nggak tersangkut. Akhirnya kuteruskan melenggang menuruni tangga dengan perasaan aman. Sedetik setelah itu…. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku yang sudah terseloyor jatuh dari tangga karena ternyata sarung shalatku tersangkut pada sebuah paku kecil yang ada di sebelah kiri tangga.
Ya Allah, sakit…, teman-teman yang sudah qamat dan siap melaksanakan shalat dengan shaf yang rapi dan rapat sontak kaget dan melihat ke arahku. Uni menghampiriku dan hendak menolongku, tapi kutolak karena kurasa ia tidak bisa mengangkatku dan aku masih merasa kesakitan dan tidak bisa bergerak. Aku hanya tertawa karena merasa lucu bisa jatuh sekaligus menghilangkan kesan kesakitanku serta berusaha tidak membuat teman-teman cemas
“kakak tidak apa-apa?” Tanya Anna
Aku hanya tersenyum, dan menggeleng.
“teruskan saja shalatnya Uni, aku nggak apa-apa kok”
Dari sini, aku bisa menilai bentuk kepdulian saudari-saudariku padaku, siapa sebenarnya diantara mereka yang memang care ma aku…
Jazakumullahu akhwaty atas ukhuwahnya selama ini….
Jadi terharu nih…

Sabtu, 16 Januari 2010

Kawan

Meretas impian di taman surga
Kawan....temani aku
bersusah Aku meraih bintang
mari buat dunia tersenyum
kawan...bantu aku
mari kita letakkan pondasi peradaban
dengan bebatuan ukhuwah
Insya Allah...badai dan terik panas pun
tak kan sanggup merobohkannya
kawan...mari kita berlari
mengejar semua Asa
telah nyata kita jauh tertinggal dibelakang
tidak ada waktu lagi berleha-leha
kerja-kerja dan kerja
terus bermujahadah
sampai harapan itu berwujud nyata
dan dunia pun kan tersenyum bangga
kawan... kita adalah orang-orang pilihan
orang pilihan yang unggul dan kan jadi pahlawan
kita ini pahlawan
disaat yang lain tumbang, kita tetap tegap
Menyerah bukan bagian dari kita