1 Februari 2009 Miris…,
ya sungguh sangat miris. Ketika imam masjid bacaannya salah dan tak ada
yang bisa membenarkan, kesalahnnya harus dilimpahkan kepada siapa?
Makmum? Atau imam itu sendiri?
Hari
ini, ketika shalat isya berjama’ah di masjid, tiba-tiba saja imam lupa
dengan bacaannya, kemudian beliau mengulangnya hingga beberapa kali
tetapi tidak satupun dari makmum yang membenarkan atau meneruskan.
Lagi-lagi terlambat
shalat subuh, jam sudah menunjukkan pukul 05.30 aku baru sadar dari
tidurku sedangkan M*r*****h tengah membaca doa al-Ma’tsurat. Aku
benar-benar dongkol, pasalnya bukan kali ini saja kudapati hal yang
sepeti ini. Kenapa dia tidak membangunkanku?
Buru-buru aku mengambil air wudhu untuk shalat subuh. Setelah itu kembali ke kamar mengambil perlengkapan shalatku.
“Kenapa nggak membangunkanku M*r?” aku protes dengan nada jengkel
“Aku bangunkan berapa kali kok,” tukas M*r*****h.
Aku
benar-benar jengkel. Dadaku sesak seperti tidak dapat bernafas, jiwaku
diliputi kebencian. Aku tidak suka diriku yang seperti ini.
Aku
berusaha konsentrasi sebelum akhirnya aku takbiratul ihram, tapi sulit
sekali. Sedangkan jarum panjang jam dinding yang ada di kamarku telah
mnunjuk angka 9, ya Rabb…bangaimana aku bisa khusyu sedangkan hatiku
masih sulit kutata.
Kemudian
aku beristigfar berkali-kali, tak terasa air matakukupun menetes tak
bisa membendung rasa sakit hatiku, dan kuputuskan untuk segera
menunaikan kewajibanku meski dengan perasaan tak tenang.
* * *
Aku
susah dibangunkan. Memang. Untuk itu aku hubungi ustadzh R*****h minta
izin supaya personel kamarku di tambah satu orang yang rajin yang bisa
membantu kami (aku dan M*r) untuk bisa lebih bisa shalat tepat waktu.
Ataupun memisahkan aku dan M*r dengan menggantinya dengan orang yang
bisa membantu kami berdua. Dimataku ini baik, bukan saja untukku, aku
tidak seegois itu, tetapi juga untuk M*r*****h. tentunya. Aku yakin, ia
juga nggak enak terus membangunkanku tapi dasar akunya yang tidak
bangun-bangun. M*r*****h. juga bukan orang yang rajin-rajin amat. Kalau
aku yang minta terus dibangunkan, terus dia, siapa yang akan
membangunkannya.
Ustadzah R*****h tidak merespon dengan baik
Aku sungguh-sungguh sangat kecewa padanya, ketika ia akhirnya membalas smsku
“Aslm.
Saya lupa bilang masalah pindah kamar, sebaiknya ba’da ujian saja.
Kalau masalah telat shalat bisa dilatih dengan kesadaran sendiri,”
Glek… :I
#Nasadar meka itu kodong,,, bukannya saya nda mau bangun tapi nda bangun memang. Hikz....
Ketika hendak
melaksanakan shalat Magrib tadi, aku segera mengambil air wudhu agar
bisa ikut takbiratul ihram bersama sang imam. Kamarku di lantai dua,
mushallanya di lantai dasar. Saat menuruni tangga, aku berpikir bahwa
aku harus hati-hati lewat sini karena ada paku di sebelah kanan yang
sering mengait mukena kami anak asrama.
Tangga
pertama dari atas, wah…nggak tersangkut. Akhirnya kuteruskan melenggang
menuruni tangga dengan perasaan aman. Sedetik setelah itu…. Aku tidak
bisa mengendalikan tubuhku yang sudah terseloyor jatuh dari tangga
karena ternyata sarung shalatku tersangkut pada sebuah paku kecil yang
ada di sebelah kiri tangga.
Ya
Allah, sakit…, teman-teman yang sudah qamat dan siap melaksanakan
shalat dengan shaf yang rapi dan rapat sontak kaget dan melihat ke
arahku. Uni menghampiriku dan hendak menolongku, tapi kutolak karena
kurasa ia tidak bisa mengangkatku dan aku masih merasa kesakitan dan
tidak bisa bergerak. Aku hanya tertawa karena merasa lucu bisa jatuh
sekaligus menghilangkan kesan kesakitanku serta berusaha tidak membuat
teman-teman cemas
“kakak tidak apa-apa?” Tanya Anna
Aku hanya tersenyum, dan menggeleng.
“teruskan saja shalatnya Uni, aku nggak apa-apa kok”
Dari sini, aku bisa menilai bentuk kepdulian saudari-saudariku padaku, siapa sebenarnya diantara mereka yang memang care ma aku…
Jazakumullahu akhwaty atas ukhuwahnya selama ini….
Meretas impian di taman surga Kawan....temani aku bersusah Aku meraih bintang mari buat dunia tersenyum kawan...bantu aku mari kita letakkan pondasi peradaban dengan bebatuan ukhuwah Insya Allah...badai dan terik panas pun tak kan sanggup merobohkannya kawan...mari kita berlari mengejar semua Asa telah nyata kita jauh tertinggal dibelakang tidak ada waktu lagi berleha-leha kerja-kerja dan kerja terus bermujahadah sampai harapan itu berwujud nyata dan dunia pun kan tersenyum bangga kawan... kita adalah orang-orang pilihan orang pilihan yang unggul dan kan jadi pahlawan kita ini pahlawan disaat yang lain tumbang, kita tetap tegap Menyerah bukan bagian dari kita
Ya
Rabb… di saat hamba ingin menangis mengadukan semua persoalan hamba,
hamba tidak menemukan tempat yang paling membuatku bisa lebih tenang
kecuali mengadukan semuanya kepada-Mu ya Rabb…
Ampunilah hamba, jangan pernah berpaling dari hamba-Mu yang dha’if ini, kumohon…
Kasihanilah hamba, bimbinglah hamba agar senantiasa merasakan nikmatnya iman kepada-Mu ya Rabbul ‘Aalamiin
#
Hamba sadari teguran dan kritikan dari makhluk-Mu adalah teguran-Mu ya
Allah…, ampunilah kesalahan hamba dan jadikanlah hamba termasuk
orang-orang yang berserah diri.
Ehem, ehem...mmm … Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam. Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan “jempolan”. Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajarkah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.
Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, “… dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu …” (QS/ Al-Baqarah:221). Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.
Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami. Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang ‘lebih’ dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.
Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.
Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar,” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?” Beliau menjawab, “Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia.” (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)
Imam Asy Syaukani mengatakan, “orang yang kamu ridhai karena agama dan akhlaqnya” dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan kalangan tabi’in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman: “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya.”
Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaqnya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.
Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang …ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta. Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya
Juni 2009 Hari pertama bertemu denganmu, kau tampak biasa-biasa saja di mataku,
bahkan bisa dibilang tidak menarik sama sekali. Kala itu, awal
perkenalan kita, awal membangun pondasi ukhuwah kita, berharap kita bisa
ta’awun karena nantinya kita akan terlibat dalam interaksi yang cukup
panjang.
Mulanya biasa-biasa saja, bahkan beribu kegamangan yang
tercipta dengan para penghunimu. Tapi aku yakin bahwa setiap orang yang
berinteraksi denganmu adalah pembelajar sejati, tidak menutup
kemungkinan mereka semua adalah mantan pemaksiat, sama halnya dengan
diriku. Satu yang perlu dipahami, setiap orang punya masa lalu, kita
tidak melihat itu. Yang kita nilai, berapa besar usaha kita untuk
berubah menjadi lebih baik. Membangun sebuah peradaban yang terlupakan.
Peradaban yang terkikis oleh hedonisme dan kediktatoran penguasa zaman
yang tidak bertanggung jawab. Kau hadir dengan penampilan biasa-biasa
saja, tapi yang kau tawarkan adalah misi yang sungguh luar biasa,
sangatlah mulia. Dan akupun terjebak dalam kekhawatiran, apakah aku bisa
menyertaimu menggapai cita-cita itu, terasa sangat berat dan sangat
besar. Kuyakinkan diriku, kita adalah apa yang kita pikirkan, where
there is a will, there is a way, HARAPAN itu masih ada. Aku harus
bangkit. ALLAHU AKBAR, innallaha ma’anaa.
Akupun mulai tertarik
padamu, dan ingin menjadi bagian dari dirimu, membangun peradaban yang
gilang-gemilang. Namun menjadi orang baik bukanlah perkara mudah, tak
semudah membalikkan telapak tangan, begitu kata teman-teman. Tentunya
kan ada banyak kerikil-kerilkil tajam yang kan senantiasa menemani
setiap langkah kita.