Senin, 01 Februari 2010

M I R I S

1 Februari 2009
 
Miris…, ya sungguh sangat miris. Ketika imam masjid bacaannya salah dan tak ada yang bisa membenarkan, kesalahnnya harus dilimpahkan kepada siapa?

Makmum? Atau imam itu sendiri?

Hari ini, ketika shalat isya berjama’ah di masjid, tiba-tiba saja imam lupa dengan bacaannya, kemudian beliau mengulangnya hingga beberapa kali tetapi tidak satupun dari makmum yang membenarkan atau meneruskan.

Sabtu, 30 Januari 2010

30 January 2009

Lagi-lagi terlambat shalat subuh, jam sudah menunjukkan pukul 05.30 aku baru sadar dari tidurku sedangkan M*r*****h tengah membaca doa al-Ma’tsurat. Aku benar-benar dongkol, pasalnya bukan kali ini saja kudapati hal yang sepeti ini. Kenapa dia tidak membangunkanku?
Buru-buru aku mengambil air wudhu untuk shalat subuh. Setelah itu kembali ke kamar mengambil perlengkapan shalatku.
“Kenapa nggak membangunkanku M*r?” aku protes dengan nada jengkel
“Aku bangunkan berapa kali kok,” tukas M*r*****h.
Aku benar-benar jengkel. Dadaku sesak seperti tidak dapat bernafas, jiwaku diliputi kebencian. Aku tidak suka diriku yang seperti ini.
Aku berusaha konsentrasi sebelum akhirnya aku takbiratul ihram, tapi sulit sekali. Sedangkan jarum panjang jam dinding yang ada di kamarku telah mnunjuk angka 9, ya Rabb…bangaimana aku bisa khusyu sedangkan hatiku masih sulit kutata.
Kemudian aku beristigfar berkali-kali, tak terasa air matakukupun menetes tak bisa membendung rasa sakit hatiku, dan kuputuskan untuk segera menunaikan kewajibanku meski dengan perasaan tak tenang.
* * *
Aku susah dibangunkan. Memang. Untuk itu aku hubungi ustadzh R*****h minta izin supaya personel kamarku di tambah satu orang yang rajin yang bisa membantu kami (aku dan M*r) untuk bisa lebih bisa shalat tepat waktu. Ataupun memisahkan aku dan M*r dengan menggantinya dengan orang yang bisa membantu kami berdua. Dimataku ini baik, bukan saja untukku, aku tidak seegois itu, tetapi juga untuk M*r*****h. tentunya. Aku yakin, ia juga nggak enak terus membangunkanku tapi dasar akunya yang tidak bangun-bangun. M*r*****h. juga bukan orang yang rajin-rajin amat. Kalau aku yang minta terus dibangunkan, terus dia, siapa yang akan membangunkannya.
Ustadzah R*****h tidak merespon dengan baik
Aku sungguh-sungguh sangat kecewa padanya, ketika ia akhirnya membalas smsku
“Aslm. Saya lupa bilang masalah pindah kamar, sebaiknya ba’da ujian saja. Kalau masalah telat shalat bisa dilatih dengan kesadaran sendiri,”
Glek… :I

#Nasadar meka itu kodong,,, bukannya saya nda mau bangun tapi nda bangun memang. Hikz....

Kamis, 28 Januari 2010

28 January 2009

Ketika hendak melaksanakan shalat Magrib tadi, aku segera mengambil air wudhu agar bisa ikut takbiratul ihram bersama sang imam. Kamarku di lantai dua, mushallanya di lantai dasar. Saat menuruni tangga, aku berpikir bahwa aku harus hati-hati lewat sini karena ada paku di sebelah kanan yang sering mengait mukena kami anak asrama.
Tangga pertama dari atas, wah…nggak tersangkut. Akhirnya kuteruskan melenggang menuruni tangga dengan perasaan aman. Sedetik setelah itu…. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku yang sudah terseloyor jatuh dari tangga karena ternyata sarung shalatku tersangkut pada sebuah paku kecil yang ada di sebelah kiri tangga.
Ya Allah, sakit…, teman-teman yang sudah qamat dan siap melaksanakan shalat dengan shaf yang rapi dan rapat sontak kaget dan melihat ke arahku. Uni menghampiriku dan hendak menolongku, tapi kutolak karena kurasa ia tidak bisa mengangkatku dan aku masih merasa kesakitan dan tidak bisa bergerak. Aku hanya tertawa karena merasa lucu bisa jatuh sekaligus menghilangkan kesan kesakitanku serta berusaha tidak membuat teman-teman cemas
“kakak tidak apa-apa?” Tanya Anna
Aku hanya tersenyum, dan menggeleng.
“teruskan saja shalatnya Uni, aku nggak apa-apa kok”
Dari sini, aku bisa menilai bentuk kepdulian saudari-saudariku padaku, siapa sebenarnya diantara mereka yang memang care ma aku…
Jazakumullahu akhwaty atas ukhuwahnya selama ini….
Jadi terharu nih…

Sabtu, 16 Januari 2010

Kawan

Meretas impian di taman surga
Kawan....temani aku
bersusah Aku meraih bintang
mari buat dunia tersenyum
kawan...bantu aku
mari kita letakkan pondasi peradaban
dengan bebatuan ukhuwah
Insya Allah...badai dan terik panas pun
tak kan sanggup merobohkannya
kawan...mari kita berlari
mengejar semua Asa
telah nyata kita jauh tertinggal dibelakang
tidak ada waktu lagi berleha-leha
kerja-kerja dan kerja
terus bermujahadah
sampai harapan itu berwujud nyata
dan dunia pun kan tersenyum bangga
kawan... kita adalah orang-orang pilihan
orang pilihan yang unggul dan kan jadi pahlawan
kita ini pahlawan
disaat yang lain tumbang, kita tetap tegap
Menyerah bukan bagian dari kita

Minggu, 15 November 2009

Allah, Aku Mengadu

November 2008
إيّاك نعبد و إيّاك نستغين
Ya Rabb… di saat hamba ingin menangis mengadukan semua persoalan hamba, hamba tidak menemukan tempat yang paling membuatku bisa lebih tenang kecuali mengadukan semuanya kepada-Mu ya Rabb…
Ampunilah hamba, jangan pernah berpaling dari hamba-Mu yang dha’if ini, kumohon…
Kasihanilah hamba, bimbinglah hamba agar senantiasa merasakan nikmatnya iman kepada-Mu ya Rabbul ‘Aalamiin
# Hamba sadari teguran dan kritikan dari makhluk-Mu adalah teguran-Mu ya Allah…, ampunilah kesalahan hamba dan jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang berserah diri.

Rabu, 11 November 2009

PILIHAN UNTUK PARA MUSLIMAH


-->
Ehem, ehem...mmm … Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam. Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan “jempolan”. Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajarkah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, “… dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu …” (QS/ Al-Baqarah:221). Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami. Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang ‘lebih’ dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.

Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.
Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar,” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?” Beliau menjawab, “Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia.” (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)

Imam Asy Syaukani mengatakan, “orang yang kamu ridhai karena agama dan akhlaqnya” dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan kalangan tabi’in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman: “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya.”

Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaqnya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.

Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang …ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta. Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya

Minggu, 11 Oktober 2009

PELANGI KAMPUS SYARI’AH

Juni 2009
Hari pertama bertemu denganmu, kau tampak biasa-biasa saja di mataku, bahkan bisa dibilang tidak menarik sama sekali. Kala itu, awal perkenalan kita, awal membangun pondasi ukhuwah kita, berharap kita bisa ta’awun karena nantinya kita akan terlibat dalam interaksi yang cukup panjang.

Mulanya biasa-biasa saja, bahkan beribu kegamangan yang tercipta dengan para penghunimu. Tapi aku yakin bahwa setiap orang yang berinteraksi denganmu adalah pembelajar sejati, tidak menutup kemungkinan mereka semua adalah mantan pemaksiat, sama halnya dengan diriku. Satu yang perlu dipahami, setiap orang punya masa lalu, kita tidak melihat itu. Yang kita nilai, berapa besar usaha kita untuk berubah menjadi lebih baik. Membangun sebuah peradaban yang terlupakan. Peradaban yang terkikis oleh hedonisme dan kediktatoran penguasa zaman yang tidak bertanggung jawab. Kau hadir dengan penampilan biasa-biasa saja, tapi yang kau tawarkan adalah misi yang sungguh luar biasa, sangatlah mulia. Dan akupun terjebak dalam kekhawatiran, apakah aku bisa menyertaimu menggapai cita-cita itu, terasa sangat berat dan sangat besar. Kuyakinkan diriku, kita adalah apa yang kita pikirkan, where there is a will, there is a way, HARAPAN itu masih ada. Aku harus bangkit. ALLAHU AKBAR, innallaha ma’anaa.

Akupun mulai tertarik padamu, dan ingin menjadi bagian dari dirimu, membangun peradaban yang gilang-gemilang. Namun menjadi orang baik bukanlah perkara mudah, tak semudah membalikkan telapak tangan, begitu kata teman-teman. Tentunya kan ada banyak kerikil-kerilkil tajam yang kan senantiasa menemani setiap langkah kita.














Aku jatuh cinta, pada semua hal tentang dirimu.